Tampilkan postingan dengan label pregnancy diary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pregnancy diary. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Juni 2013

Kisah Kelahiran : Aleadna Ahmad Said Yudhistira

Saat itu mengenal Gentle Birth dari seorang teman. Ia berhasil melahirkan putrinya secara water dan lotus birth. Penasaran, akhirnya berlanjut bertemu dengan kisah kelahiran Atisha, putri dari Dee Lestari dan video Reza Gunawan tentang melahirkan adalah peristiwa alami yang tidak harus dirumahsakitkan. Saat itu saya belum hamil,   tapi saya sudah tetapkan dalam hati kehamilan dan kelahiran seperti itulah yang saya ingin jalani.
Berbeda dengan kelahiran anak saya yang pertama, Kay. Banyak intervensi medis yang baru saya tahu itu tidak perlu dilakukan. Seharusnya sudah tidak boleh dilakukan tapi masih dipraktekan oleh dokter. Perut saya ditekan oleh suster dimaksudkan agar bayi tidak naik lagi. padahal bahaya rahim bisa pecah dan bayi dalam rahim bisa kesakitan. Ketuban dipecahkan untuk mempercepat bukaan, hal ini tidak perlu bahkan ada bayi dilahirkan dengan ketuban utuh. Episiotomi tanpa persetujuan pasien. Periksa dalam ( Vaginal Toucher ) yang telalu sering. Ini yang membuat saya nggak nyaman dan sedikit agak takut bila harus di VT lagi. Dan hal-hal itulah yang saya nggak mau terulang lagi di kehamilan yang kedua. Saya ingin kelahiran yang nyaman, privat dan tanpa intervensi medis. Karena kurangnya pemberdayaan diri ketika saya hamil. Saya pikir semua wanita pasti bisa melahirkan secara normal, saat itu. Tuhan telah menciptakan jalan lahir pasti semua bisa.
Selang beberapa hari ternyata saya positif hamil. Pencaritahuan tentang Gentle Birth terus berlanjut sampai akhirnya bergabung di grup Gentle Birth Untuk Semua. Membaca kelahiran yang begitu indah dan menyenangkan makin bikin yakin dengan pilihan saya. Saya ingin melahirkan dirumah dimana bayi saya diterima pertama kali oleh orang-orang yang sentuhan, suaranya ia kenal selama dalam kandungan bukan oleh orang asing, tempat asing dan cara yang tidak nyaman.
Saya ingin melahirkan dirumah. Pe ernya banyak, pertama harus meyakinkan suami yang masih buta tentang Gentle Birth. Awalnya ia kurang setuju, sampai akhirnya kami bertemu dengan bidan Yessi di Klaten. Suami setuju saya melahirkan water birth. Home dan lotus birth belum dapat ijin.
"Melahirkan dan dilahirkan adalah sebuah pengalaman yang transformatif. Pada jam-jam bayi yang lahir, pada jam-jam seorang wanita menjadi seorang ibu, seorang pria menjadi seorang ayah, pasangan menjadi sebuah keluarga, orang tua menjadi kakek-nenek dan mungkin seseorang juga mendapatkan adik baru. mengapa tidak siapkan sebaik mungkin?" Begitu kata bidan Yessi. Dulu waktu menikah pasangan bersedia mempersiapkan jauh-jauh hari dengan budget fantastis dan menyita waktu dan tenaga. Sedangkan untuk kelahiran seorang anak yang hubungannya nggak akan pernah putus, kita sebagai orang tua malas memberdayakan diri. Itu yang bikin nyesek kata-kata dari bidan Yessie. Dari situ mulai baca-baca artikel tentang kehamilan,kelahiran, beli buku tentang hypnobirthing, latihan yoga, relaksasi dengan afirmasi positif hampir tiap hari sampai sering ketiduran.
Pe er selanjutnya mencari bidan dan dokter kandungan yang paham dan mendukung gentle birth. Seperti jodoh saya bertemu dengan Bidan Erie Marjoko dan Dokter Riyana Kadarsari. Karena lokasi Bidan Erie lumayan jauh dari rumah akhirnya suami mengijinkan home birth yeeeeiiii. Oia yang bikin terkesan pertama kali periksa dengan bidan Erie, beliau menyapa janin "Assalamualaikum sayang, Tante periksa dulu ya". Mungkin nggak akan pernah kita alami ketika periksa dengan dokter kandungan. :D
Hasil USG dengan dokter Riyana, saya memenuhi syarat lahiran water birth dan lotus birth. Alhamdulillah. Tinggal menunggu kapan Adek bayi mau menentukan tanggal lahirnya.
Tanggal 10 Juni
Kontraksi palsu mulai kerasa. Awalnya setiap 15 menit maju lagi menjadi 7 menit. Wah uda seneng banget karena inilah yang ditunggu-tunggu. Kami janjiannya supaya adek bayi pilih waktu weekend dan semoga memilih waktu yang nggak macet biar perjalanan bidan Erie ke rumah lancar tanpa halangan. Tapi kalau ia memilih hari lain kami sudah siap lahir batin. Suami sudah menyiapkan kamar anak-anak jadi kamar bersalin dan sudah memompa kolam. Besoknya kontraksi hilang sodara sodaraaa..hahaha. Induksi alami dengan makan nanas dan duren masih belum berhasil juga. Ya wes terserah sama adek bayi deh,mungkin dia mau nepatin janji lahir di weekend.
Tanggal 15 Juni
Terbangun jam 03.30 pagi, kontraksi muncul lagi. Hmm pas dihitung ternyata uda lima menitan. Langsung SMS bidan Erie. Jam 6 pagi ngajak jalan-jalan Didi dan Kay keliling komplek. Kontraksi makin kenceng, mencoba terus napas perut. Jam 7 pagi kerasa laper akhirnya ngajak Didi sarapan lontong sayur di pasar. Kontraksi uda tiga menitan. Kerasa banget pas ada polisi tidur, guncangan naik motor termasuk induksi alami juga. Sampai di rumah mandi,beberes,mandiin kay dan tiduraaan sambil nunggu bidan datang. Kontraksi makin kenceng kerasa namun dalam batas yang masih bisa saya tahan.
Jam setengah 11, Bidan Erie datang dengan satu orang asistennya. Bidan Erie menawarkan di VT awalnya saya nggak mau, pikir saya entar aja deh. Saya agak trauma dengan VT. Nggak nyaman bangetttt. Tapi akhirnya di VT juga. Ternyata masih bukaan satu sodara sodaraaaaa. Huuuhhhhaaaa...sabarrrr.
Bidan Erie mencoba membantu menipiskan serviks, soalnya saya belum ada flek dan sepertinya bukaannya akan lama. Makan dulu disuapin suami di sela-sela istrahat kontraksi agar cukup tenaga bila melahirkan nanti.
Jam 12 siang saya merasa ada yang meletus di bawah perut saya. "Mbak Erieeee ketubannya pecah". teriak saya yang lagi nidurin Kay (bersyukur sekali Kay nggak rewel dan anteng, malah tiap kontraksi dateng saya dielus-elus dicium, dan bilang ke adeknya untuk bantu Bun. Seperti ini mungkin saya ga bisa alami bila lahiran di RS). Eh ternyata bener bukaan semakin cepat,ketika di VT uda bukaan 7. Kontraksi semakin kenceng dan saya mencoba menikmati gelombang rahim itu dan merasakan si adek mendorong ke bawah mencari jalan lahirnya. Menurut pendapat umum, Proses kelahiran terlihat menyakitkan buat ibu padahal bayi pun merasa begitu. Selama sembilan bulan ia merasa aman dan nyaman di dalam rahim ibu dan ketika lahir ia pun harus berjuang melewati pintu lahir. Bila tubuh ibu tegang bayi pun merasa kesusahan dan kesakitan. Jadi saya mencoba rileks setiap gelombang rahim datang sambil membayangkan saya sebentar lagi ketemu dengan adek bayi dan kami akan bermesraan berempat. Itu terus yang saya bayangkan.
Pembukaan 8, kolam sudah siap dan saya boleh masuk kolam. Air hangat terasa maknyuuusss...mengurangi nyeri dan membuat saya nyaman dan rileks. Posisi awal jongkok menghadap kolam sambil pelukan dengan suami. Kontraksi datang bisa terlewati dengan tetap fokus napas.
Begitu pembukaan lengkap, mulai makin terasa dorongan adek begitu kuat. Wah bayiku hebat. Mengikuti alur tubuh, suara saya pun melenguh seperti sapi. Aneh, untungnya tetangga sebelah pada nggak ada di rumah hihihi. Terasa sekali kepala adek sudah crowning, Didi dan bidan jadi penyemangat. "Ayo Bun kepalanya uda keliatan". Dan hal yang paling menakjubkan dalam hidup saya adalah mengelus kepala bayiku yang akan segera keluar. Subhanallah. Rasanya lega sekali begitu kepalanya keluar. Sambil nunggu kontraksi datang lagi untuk melahirkan seluruh badannya, saya istirahat sambil disuapin Didi durian untuk mancing kontraksi datang. Masih bisa ketawa-ketawa sambil berucap subhanallah mengelus-mengelus kepala adek bayi. Bener-bener ajaib rasanya. Suami pun ikut mengelus kepalanya.
Badan adek seperti memutar. Kakinya seperti menendang di perut saya. Nggak lama tangan kecilnya keluar dan ia meluncur di kolam. Dibiarkan ia berenang-renang beberapa detik dan diangkat oleh Didinya dan diletakkan di dada saya. "Assalamualaikum Ale" bidan Erie dan saya menyambut Adek bayi, Ale, yang baru saja lahir dengan selamat.
Hanya beberapa saat di kolam akhirnya kami keluar untuk IMD dan melahirkan plasenta. Plasenta dilahirkan secara spontan dan pendarahan normal. Alhamdulillah ya Allah sungguh pengalaman luar biasa. Makin takjub dengan proses kelahiran begitu...ahhhhh susah diungkapin. Begitu indah yang pasti.
Terima kasih untuk Bidan Erie dan Mbak Rida yang sabaaar sekali.
Dan terima kasih untuk pendamping persalinanku Suami tercinta dan anakku, Didi dan Kay.
Aleadna Ahmad Said Yudhistira, 3500 gr,  51 cm. Home-water-lotus birth baby boy.

Kamis, 20 Juni 2013

Pregnancy Diary : 38 weeks

wihiiii..tinggal 2 minggu lagi adek lahir (meskipun nulisnya pas kelar lahiran :p). Kontraksi palsu uda mulai kerasa, meskipun nggak terlalu sering. Masih bisa nyetir, masih sanggup terima orderan cake, masih bisa tiduuuuurrr. Tanggal 10 Juni, kontraksi mulai intens mulai dari 15 menit semakin maju menjadi 7 menit kadang 5 menit. Sudah deg deg serrr aja, tapi kita janjian mau lahiran weekend pas ada Didi di rumah. Tapi sudah diserahkan sepenuhnya, si adek mau lahir kapan. Eehh dibawa tidur kontrkasi hilang blaaaasss besok2nya ga muncul lagi...baiklah kunci dalam kehamilan adalah sabaaaaaaar.

Sabtu, 15 Desember 2012

My Pregnancy Diary: 12 weeks

My Pregnancy Diary : 9 weeks

Hamil kedua ini agak berbeda dengan hamil Kay. Mungkin memang benar ya tiap kehamilan itu punya pengalaman yang berbeda. Kali ini saya jarang menyentuh makanan. Entah itu selera makan yang biasanya melayang kemana. Tapiiii seneng melihat orang lain makan, bisa ikutan kenyang rasanya. Paling sesuap dua suap perut rasanya kenyang dan uda mual saja ingin muntah. Alhasil berat badan turun drastis sampai 7 kilo. Pipi jadi tirus, tulang selangka terlihat, persis seperti orang yang kurang sehat. Maunya tidur-rebahan-duduk dan ga jauh-jauh dari kasur. Jadi agak kasihan dengan Kay kadang ia mengajak main sering saya tolak. Untungnya masih kuat mengantar Kay sekolah. tapi ya gitu pulang langsung tidur.

Dan satu lagi kebiasaan unik, pokoknya tiap hari pas magrib mendekati Didi pulang kerja, selalu whatsapp "pulangnya jangan malem2 ya". Kangen gitu rasanya tiap Didi ga di rumah ehhh lah dalaah kok pas pulang rasanya males liat mukanya huahahaha.....Didi juga gitu "Bun dingiiin sekarang" huahahaha maaf ya Didi. Tauuuk nih kok bisa yaaaa...

Kalo hamil Kay sama sih mualnya, tapi diajak muter-muter kena angin di jalan uda sehat lagi rasanya. tapi begitu balik rumah lemes lagi deh. Makan juga masih oke meskipun dimuntahin ga sampai turun banyak cuma 2 kilo aja.

Paling lucu lagi produksi ludah semakin banyak. Bisa berapa kali sehari meludah, padahal saya orang yang ga suka meludah. Sampai-sampai tiap bangun tidur pasti deh ngiler...hahahaha..terus muntah pertama yang keluar ya pasti ludah.

Semoga sehat terus, happy terus, positif terus, lancar sampai tiba waktunya.. *elus-elus perut*

Pregnancy Diary : 5 weeks

Hamil kedua sepertinya lebih ceepet kelihatan ya.. Apa karena lemak-lemak diperut ya..hmmm
Dulu waktu hamil Kay, usia lima bulan aja dikira baru 3 bulan...hahaha


My Pregnancy Diary: "Bergaris Dua, Itu Apa artinya Bun?"

Saat itu 18 Oktober 2012, saya sudah terlambat datang bulan tiga hari. Entah kenapa saya yakin saat itu  telat karena hamil. Mau test juga males-malesan, mungkin karena sudah pede hamil kali ya. Tapi akhirnya test juga dan benar bergaris dua. Alhamdulillah.



Hamil kedua ini saya benar-benar santai banget. Didi,yang saat itu sedang tugas ke Malaysia, tahunya juga baru esoknya. Saya kirim foto hasil testpack via whatsapp. Responnya "apa itu artinya bun?" doeng...doeeeeeng. Lupa katanya apa itu hahaha. Setelah tahu dia seneeeeeeng banget. Didi memang menantikan anak kedua kami.

Orang tua saya yang sedang di tanah suci baru tahu tiga hari kemudian. "Mah, aku hamil" via telepon. "Haaaahhhhh, siapa yang hamil" respon pertamanya. Mereka sepertinya lupa kalau hanya saya, anak mereka yang sudah menikah. Yah sudah pasti saya dong mamaaaah yang hamil. Dan butuh waktu beberapa menit sampai mereka jelas mendengar karena kendala sinyal sampai saya harus setengah teriak " NINA MAH, HAMIL MAAH". 

Saat merencanakan hamil lagi, saya utarakan pada suami dan teman-teman yang selalu menanyakan kapan  punya anak lagi. Saya ingin hamil ketika saya siap, Kay siap, dan Keluarga kecil kami siap. Tidak ingin merasa sedikit pun si kecil datang disaat yang tidak tepat dan tidak diharapkan. Tidak ingin mempunyai rasa bersalah pada Kay karena merasa menjadikannya seorang kakak yang begitu mendadak. Momen itu harus menjadi momen bahagia sebagaimana kami ingin memiliki buah hati pertama kali. Alhamdulillah Allah menjawab keinginan saya. Tidak ada keresahan di hati bagaimana nanti beranak dua, bisa nggak ya nganter kay sekolah, bisa nggak nanti bla bla bla. Semua pertanyaan yang selalu muncul semasa sebelum hamil tidak ada sedikit pun saat ini. Semua saya jalani dengan perasaan tenang, santai dan bersyukur. Satu hal lagi yang penting, saya tahu ingin menjalani kehamilan dan kelahiran yang seperti apa. Hayoo sapa selanjutnya *kocok arisan hamil*